TVRINews, Kupang
Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Nusa Tenggara Timur bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) NTT menggandeng Benih Foundation meluncurkan program Gerakan Tenun Talenta NTT Membangun 100 Champion AI dan Bioteknologi. Program ini disiapkan untuk melahirkan generasi muda yang mampu menguasai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan bioteknologi sebagai solusi bagi berbagai tantangan pembangunan di NTT.
Pada kesempatan tersebut, Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Rondo, mengatakan perkembangan AI yang semakin mudah diakses harus dimanfaatkan secara optimal oleh generasi muda. Menurutnya, teknologi tersebut bukan hanya menjadi tren, tetapi dapat menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.
Ia mencontohkan pemanfaatan AI dapat mendukung percepatan penurunan angka stunting, meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan, memperkuat industri rumput laut, membantu pengembangan UMKM, melindungi pekerja migran, hingga mendukung upaya menghadapi perubahan iklim.
“Gerakan ini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi membentuk anak-anak muda yang mampu melihat persoalan di sekitarnya dan menghadirkan solusi berbasis teknologi,” ujar Winston kutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Melalui program tersebut, pihaknya menargetkan lahirnya 100 Champion AI yang nantinya akan menjadi mentor di daerah masing-masing. Setiap peserta diharapkan dapat membagikan pengetahuan kepada sedikitnya 10 orang lainnya sehingga kemampuan pemanfaatan AI dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk hingga ke desa-desa.
Ketua Komda Pemuda Katolik NTT, Yuvens Tukung, mengatakan kemajuan teknologi harus disambut dengan kesiapan sumber daya manusia. Menurutnya, AI bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut pelatihan yang diberikan secara cuma-cuma ini merupakan kesempatan berharga bagi anak muda NTT untuk memperoleh pengetahuan yang umumnya membutuhkan biaya besar.
“Kami ingin AI menjadi bagian dari cara berpikir generasi muda. Ketika mereka terbiasa memanfaatkannya dengan benar, teknologi ini akan membantu menyelesaikan banyak kebutuhan sehari-hari sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Yuvens juga berharap kolaborasi antara Pemuda Katolik dan GAMKI menjadi wadah bagi anak-anak muda lintas organisasi untuk belajar, berkolaborasi, dan bersama-sama membangun NTT maupun Indonesia.
Sementara itu, perwakilan Benih Foundation, Robertus Theodore, menyampaikan apresiasinya terhadap tingginya antusiasme peserta. Menurutnya, semangat tersebut menjadi modal penting untuk mendorong lahirnya inovasi baru dari NTT.
Ia menjelaskan peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama dua bulan. Setelah memahami dasar-dasar AI, mereka akan diarahkan mengikuti pelatihan yang lebih spesifik sesuai minat dan kebutuhan, seperti bidang pendidikan, UMKM, pertanian, rumput laut, maupun sektor lainnya.
Robertus menilai AI membuka kesempatan yang sama bagi generasi muda NTT untuk menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Dengan AI, proses belajar menjadi jauh lebih cepat. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi itu digunakan untuk menghasilkan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” tutupnya.









