TVRINews, Nagekeo
Balai Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Renduwawo, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut diberikan sebagai respons atas krisis air bersih yang melanda wilayah itu akibat musim kemarau berkepanjangan.
Distribusi air bersih dilakukan sejak Jumat (31/7/2026) setelah BBWS Nusa Tenggara II menerima laporan mengenai kondisi kekeringan yang dialami warga. Dalam penyaluran tersebut, dua unit mobil tangki dikerahkan untuk mendistribusikan air langsung ke sejumlah titik permukiman yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BBWS Nusa Tenggara II, Frengky Welkis, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari langkah tanggap darurat Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Desa Renduwawo menjadi salah satu wilayah prioritas karena sumber air warga telah mengering selama hampir tiga bulan. Kami hadir untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama air minum dan keperluan mandi, cuci, kakus (MCK), tetap terpenuhi,” ujar Frengky.
Selama musim kemarau, warga Desa Renduwawo mengandalkan embung, sumur gali, dan mata air sebagai sumber air. Namun, dalam beberapa bulan terakhir debit air terus menurun sehingga sebagian warga terpaksa berjalan hingga dua kilometer untuk membeli air dengan harga mencapai Rp15 ribu per jeriken.
Kepala Desa Renduwawo, Teudorus Aru, mengapresiasi respons cepat BBWS Nusa Tenggara II dalam membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan mobil tangki air bersih ini. Kehadiran bantuan tersebut sangat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga memastikan anak-anak dapat beraktivitas dan berangkat ke sekolah dengan lebih tenang,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, BBWS Nusa Tenggara II mendistribusikan sekitar 10.000 liter air bersih. Selain itu, bantuan juga dilengkapi dengan 10 unit tandon air berkapasitas 1.000 liter untuk memudahkan warga menyimpan cadangan air.
Tidak hanya memberikan bantuan darurat, BBWS Nusa Tenggara II juga melakukan pendataan sebagai bagian dari rencana penanganan jangka panjang. Program tersebut meliputi pembangunan sumur bor dan rehabilitasi embung di sejumlah wilayah terdampak kekeringan, khususnya di Kabupaten Nagekeo.
Salah seorang petugas BBWS Nusa Tenggara II, Sony Tulen, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan solusi yang berkelanjutan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan air saat musim kemarau.
“Kami tidak hanya melakukan distribusi air bersih. Ke depan, kami menyiapkan solusi jangka panjang melalui penyediaan sumber air baku agar masyarakat memiliki akses air yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Program distribusi air bersih ini merupakan bagian dari upaya penanganan kekeringan yang dilakukan BBWS Nusa Tenggara II di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hingga Agustus 2026, lembaga tersebut telah menyalurkan lebih dari 2,5 juta liter air bersih kepada 28 desa di lima kabupaten yang terdampak kekeringan.









