TVRINews, Kupang
Misa dan Upacara Khidmat di Kupang Serukan Kepedulian bagi Korban Bencana Flores.
Semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang menginjak usia ke-81 tahun dirayakan dengan nuansa berbeda di Gereja Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Rangkaian peringatan hari ulang tahun kemerdekaan pada Senin 17 Agustus 2026 tidak hanya diisi dengan upacara bendera dan perlombaan tradisional, tetapi juga difokuskan pada penggalangan solidaritas kemanusiaan bagi para korban bencana alam di Pulau Flores.
Perayaan hari nasional tersebut diawali dengan perayaan Ekaristi atau misa syukur yang dimulai tepat pukul 06.00 Wita. Dipimpin oleh Pastor Paroki Romo Longginus Bone, Pr, ibadat rohani ini berlangsung khidmat dengan iringan paduan suara dari kelompok koor Vox Paterna dan Legio Maria Assisi di bawah arahan dirigen Martinus Tokan.
Umat Katolik setempat memanjatkan syukur atas anugerah kemerdekaan sekaligus mendoakan keselamatan bangsa.
Usai ibadah keagamaan, jemaat yang terdiri dari para biarawan-biarawati, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Orang Muda Katolik (OMK), serta ratusan umat melanjutkan agenda dengan upacara pengibaran bendera di halaman depan gereja pada pukul 07.30 Wita.
Kehadiran para rohaniawan, termasuk Romo Toni Kobesi dan Romo Yopi, menambah kekhidmatan jalannya upacara yang berlangsung sederhana namun sarat makna kebangsaan.
Dalam amanatnya sebagai pemimpin upacara, Romo Longginus Bone yang akrab disapa Romo Dus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai usia kemerdekaan negara melalui tindakan nyata yang berlandaskan kasih persaudaraan.
"Sebagai masyarakat Indonesia, kita patut bersyukur atas rahmat kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan terus berbuat kebajikan, merawat persaudaraan sejati, dan menumbuhkan kepedulian bagi sesama yang tengah membutuhkan uluran tangan serta cinta kasih," ujar Romo Dus di hadapan para peserta upacara.
Lebih lanjut, pemimpin umat paroki tersebut secara khusus menyerukan aksi solidaritas bagi warga di Pulau Flores yang saat ini tengah dilanda musibah bencana alam. Ia mengajak jemaat untuk menyisihkan bantuan serta mendoakan para korban yang terdampak.
Dalam doanya, Romo Dus menyampaikan pengharapan agar para korban meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan mental dalam menghadapi masa pemulihan.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan suasana kebersamaan yang hangat melalui berbagai perlombaan rakyat, seperti balap karung dan makan kerupuk yang diikuti secara antusias oleh kaum ibu dan bapak. Nuansa keakraban tersebut mencerminkan esensi gotong royong dan kekeluargaan yang tetap terjaga di tengah keprihatinan atas musibah yang melanda sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur.










