TVRINews, Flores Timur
Situasi keamanan di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berangsur kondusif pasca bentrokan berdarah antarwarga desa yang terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026. Ratusan personel gabungan TNI-Polri masih disiagakan untuk mengamankan wilayah Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra mengatakan, pihaknya bersama TNI dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur terus berupaya memulihkan kondisi sekaligus mencari solusi penyelesaian konflik agar tidak kembali terulang.
"Kami dari Polres Flores Timur bersama TNI dan pemerintah daerah berupaya membangun kolaborasi untuk segera mencari jalan penyelesaian konflik ini, baik melalui pendekatan persuasif maupun preventif," ujar AKBP Adhitya saat dikonfirmasi, Senin, 20 Juli 2026.
Untuk menjaga situasi tetap aman, aparat mengerahkan kekuatan gabungan yang terdiri dari 82 personel Polres Flores Timur, 34 personel BKO Brimob Maumere, 69 personel BKO Polda NTT, serta 60 personel Kodim 1624 Flores Timur.
Bentrokan yang kembali pecah pada Sabtu pagi 18 Juli 2026 tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil yang cukup besar. Tercatat tiga orang meninggal dunia, tujuh orang mengalami luka-luka akibat senjata tajam, serta 20 unit rumah warga hangus terbakar.
Sebelumnya, Polres Flores Timur bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah beberapa kali melakukan upaya mediasi dan perdamaian untuk meredam konflik antarwarga. Namun, meski berbagai langkah penyelesaian telah ditempuh, bentrokan kembali terjadi.
Saat ini aparat keamanan masih berjaga di lokasi guna mengantisipasi potensi konflik susulan, sementara pemerintah daerah bersama TNI dan Polri terus mengedepankan dialog dan pendekatan damai demi memulihkan keamanan serta kehidupan masyarakat di Adonara Timur.










