TVRINews, Nusa Tenggara Timur.
Aktivitas gunung api di Nusa Tenggara Timur kembali menjadi perhatian setelah Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata mengalami erupsi, Sabtu, 15 Agustus 2026. Erupsi terjadi di tengah rangkaian gempa bumi yang masih mengguncang sejumlah wilayah Pulau Flores.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Gunung Api Ile Lewotolok terjadi pada pukul 13.17 WITA. Saat erupsi, kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut.
Petugas Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda, mengatakan kolom abu yang keluar saat erupsi berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat daya.
“Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 16,6 milimeter dan durasi sekitar satu menit 30 detik,” ujar Stanis.
Saat ini, status Gunung Api Ile Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada. PVMBG mengingatkan masyarakat maupun wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat kawah.

Selain ancaman erupsi, masyarakat di sekitar gunung juga diminta mewaspadai potensi guguran lava, longsoran, serta awan panas yang dapat terjadi di sejumlah sektor gunung.
“Diimbau masyarakat mewaspadai ancaman bahaya guguran, longsoran lava dan awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung,” jelas Stanis.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker dan perlengkapan pelindung, terutama untuk melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik. Warga yang memiliki tempat penampungan air bersih juga diimbau menutupnya untuk mencegah kontaminasi abu.
Sementara itu, aktivitas seismik masih berlangsung di wilayah Flores pascagempa Magnitudo 7,7 yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Data BMKG hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 12.00 WIB mencatat sebanyak 186 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan Magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil Magnitudo 2,5. Dari jumlah tersebut, delapan gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan satu gempa susulan dirasakan masyarakat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah Flores diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah dan petugas kebencanaan terus memantau perkembangan aktivitas gempa maupun gunung api untuk mengantisipasi potensi dampak terhadap masyarakat.
Warga diimbau mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.










