TVRINews, Rote Ndao
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar kegiatan Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat di kota Ba’a Kabupaten Rote Ndao yang merupakan kabupaten paling selatan wilayah Indonesia.
Kegiatan Puncak HIM digelar OJK Provinsi NTT bersama Pemerintah Provinsi NTT, Pemkab Rote Ndao, Bank NTT, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, yang dipusatkan di SMA Negeri 1 Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, dan dilaksanakan secara hybrid dengan melibatkan 22 kabupaten/kota se-NTT, Rabu.
Plt. Kepala OJK Provinsi NTT Yan Jimmy Hendrik Simarmata dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut digelar untuk memperkuat budaya menabung sejak dini dan memperluas akses keuangan formal hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan serta mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
“Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi merupakan bagian dari proses membangun kebiasaan keuangan yang sehat, mulai dari menentukan prioritas, merencanakan kebutuhan, hingga mengambil keputusan keuangan secara bijak,” kata Jimmy.
Menurut Jimmy, peningkatan literasi dan inklusi keuangan harus berjalan secara beriringan. Masyarakat tidak hanya diharapkan memiliki rekening atau menggunakan layanan keuangan, tetapi juga memahami manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya serta mampu menggunakan layanan keuangan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan secara nasional tercatat sebesar 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61 persen. Sementara itu, Provinsi NTT mencatat indeks literasi keuangan sebesar 67,71 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 92,78 persen. Capaian tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk terus memperkuat pemahaman masyarakat seiring dengan semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan.
Dukungan Pemda
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena yang hadir secara _online_ menegaskan bahwa peningkatan akses keuangan harus menjadi gerakan bersama yang menjangkau seluruh wilayah NTT dan memberikan kesempatan yang setara kepada generasi muda untuk mengenal layanan keuangan formal sejak dini.
“Peningkatan akses keuangan harus menjadi gerakan seluruh daerah, bukan hanya terpusat di kota-kota tertentu. Anak-anak kita, di mana pun mereka tinggal, di seluruh NTT, di setiap sudut, termasuk di Pulau Flores yang sedang terdampak musibah gempa bumi, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenal, memiliki, dan memanfaatkan layanan keuangan formal sejak dini,” kata Melki.
Pada HIM 2026, Pemerintah Provinsi NTT bersama seluruh pemangku kepentingan menargetkan pembukaan 208.000 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) baru bagi pelajar di seluruh kabupaten/kota di NTT. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) untuk membangun kebiasaan menabung dan kecakapan mengelola keuangan sejak usia sekolah.
Melki menekankan bahwa keberhasilan Program KEJAR tidak hanya diukur dari jumlah rekening yang dibuka, tetapi juga dari keberlanjutan pemanfaatannya oleh para pelajar.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Rekor ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama dalam skala besar. Rekor selesai, tapi jauh lebih penting adalah membuat rekening-rekening tersebut tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan program ini kita bangun dengan manfaat dan berkelanjutan,” kata Melki.
Untuk memperkuat keberlanjutan Program KEJAR, Pemerintah Provinsi NTT juga meluncurkan Surat Edaran Gubernur NTT tentang Program Satu Rekening Satu Pelajar. Surat edaran tersebut menjadi landasan penguatan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, satuan pendidikan, perbankan, orang tua, serta pemangku kepentingan lainnya agar budaya menabung menjadi bagian dari pendidikan dan pembentukan kebiasaan keuangan pelajar secara berkelanjutan.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Rote Ndao sebagai tuan rumah Puncak HIM Provinsi NTT Tahun 2026. Menurutnya, posisi Rote Ndao sebagai wilayah paling selatan Indonesia tidak menjadi penghalang untuk terhubung dan bergerak bersama dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan.
“Walaupun berada di ujung selatan Indonesia, tetapi kami percaya sebuah daerah tidak pernah benar-benar berada di ujung apabila hati dan semangat kita selalu terhubung dengan daerah lain,” kata Paulus.
Paulus juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan keuangan yang baik sejak dini.
“Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi membangun kebiasaan, disiplin, bijak mengelola keuangan, dan mempersiapkan masa depan,” kata Paulus.
Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus menyampaikan komitmen Bank NTT untuk mendukung penguatan budaya menabung dan perluasan akses layanan keuangan bagi masyarakat NTT melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, OJK, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kalau kita ingin merebut masa depan kita, jadi sekarang kita harus mempersiapkan diri secara baik. Sehingga, menabung itu adalah satu kegiatan yang perlu disiapkan dan dilakukan secara dini,” kata Charlie.
Raih Rekor MURI
Kolaborasi OJK, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, Bank NTT, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam Puncak HIM Provinsi NTT Tahun 2026 juga mencatatkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pembukaan rekening SimPel secara serentak di 22 kabupaten/kota se-NTT.
Sebanyak 220.194 rekening SimPel berhasil dibuka secara serentak.
Capaian tersebut memperkuat implementasi Program KEJAR sekaligus menjadi momentum untuk membangun budaya menabung yang berkelanjutan di kalangan pelajar.
“Hari ini, dari titik paling selatan Indonesia, kita harus berbangga bahwa NTT mencetak satu rekor baru untuk kegiatan menabung yang paling banyak. Sehingga, atas rekor tersebut akan dicatat dalam Rekor MURI. Ini hal yang sangat membanggakan. Dan saya berpikir mungkin inilah awal dari kebangkitan kita di NTT ini untuk menyongsong satu masa depan yang lebih baik,” kata Charlie.
Selain penguatan Program KEJAR, Puncak HIM Provinsi NTT Tahun 2026 juga menjadi momentum penguatan Program One _Village One Agent_ (OVOA) melalui optimalisasi Agen Laku Pandai untuk mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan dan daerah yang belum terjangkau jaringan kantor bank.
Penguatan OVOA sejalan dengan arah pembangunan ekonomi Pemerintah Provinsi NTT melalui program One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). Perluasan akses layanan keuangan diharapkan dapat mendukung masyarakat dan pelaku usaha dalam mengembangkan potensi ekonomi di desa, sekolah, dan komunitas.
Puncak HIM Provinsi NTT Tahun 2026 juga dirangkaikan dengan peluncuran Surat Edaran Gubernur NTT tentang Program KEJAR, penyerahan simbolis rekening SimPel kepada pelajar, penguatan Program OVOA, serta penyerahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara simbolis kepada pelaku usaha.
Kegiatan turut diisi dengan edukasi keuangan oleh OJK, LPS, dan Bank NTT yang mencakup pengelolaan keuangan bagi pelajar, budaya menabung sejak dini, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, fungsi LPS dalam menjamin simpanan, serta pengenalan produk dan layanan perbankan, termasuk SimPel dan Program KEJAR.










