TVRINews, Ende
Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat sejumlah permukiman warga di Kabupaten Ende terdampak. Ratusan rumah dilaporkan ambruk dan mengalami kerusakan berat setelah diguncang gempa.
Bangunan yang terdampak mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Sebagian rumah mengalami keretakan pada dinding, sementara lainnya rusak pada bagian atap hingga struktur utama bangunan. Kondisi itu membuat warga memilih meninggalkan rumah demi menghindari risiko bangunan roboh.

Warga kemudian mengamankan diri ke sejumlah lokasi pengungsian. Di tengah kondisi darurat, kebutuhan dasar menjadi perhatian utama karena sebagian warga tidak lagi memiliki tempat tinggal yang dapat digunakan.
Bantuan pun mulai berdatangan. Korem 161/Wirasakti menyalurkan paket sembako ke sejumlah lokasi pengungsian di Kabupaten Ende untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak.
Para pengungsi menyambut bantuan tersebut. Namun, mereka berharap penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada kebutuhan makanan.
Warga menyebut masih menghadapi keterbatasan air bersih, listrik, selimut, serta akses komunikasi dan internet. Gangguan jaringan juga menyulitkan warga untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun mendapatkan informasi mengenai perkembangan situasi di wilayah terdampak.
Selain kebutuhan di pengungsian, warga berharap pemerintah segera melakukan pendataan terhadap rumah-rumah yang rusak. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dapat memperoleh penanganan dan bantuan sesuai kondisi kerusakan.
Pemerintah bersama aparat dan unsur penanggulangan bencana diharapkan terus memperbarui pemantauan di wilayah terdampak, sekaligus memastikan kebutuhan warga terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, dukungan berupa pangan, air bersih, penerangan, perlengkapan tidur, serta akses komunikasi menjadi kebutuhan mendesak hingga kondisi kembali aman.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 241 rumah mengalami kerusakan, pasca gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 kemarin.
“Hingga hari kedua, BNPB menerima laporan sementara sebanyak 154 rumah mengalami rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah rusak ringan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada laman akun YouTube BNPB Indonesia pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Kendati demikian, ia menegaskan jika data tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi dan validasi di lapangan masih berlangsung.
“Pendataan (yang dilakukan petugas di lapangan) diperlukan agar pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan serta memastikan warga terdampak yang berhak mendapatkan bantuan perbaikan rumah dapat teridentifikasi secara jelas,” sebutnya










