TVRINews, Manggarai Timur
Upaya tanggap cepat Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur membuahkan hasil.
Longsor yang menutup sekitar 30 meter saluran irigasi primer di Daerah Irigasi (DI) Wae Dingin, Sub DI Wae Laku, akhirnya berhasil ditangani.
Longsor tersebut terjadi sejak 15 Agustus 2026 akibat gempa flores menyebabkan saluran irigasi primer tertutup material longsoran.
Kondisi ini membuat aliran air terputus dan mengancam pasokan air untuk lahan pertanian masyarakat 3 Desa yakni Desa Golo Kantar, Compang Kantar dan Nanga Labang.
Penanganan mulai dilakukan pada 21 Agustus 2026. Tim BBWS NT II bersama Pemda Manggarai Timur bergerak untuk membuka akses dan mencari solusi agar kebutuhan air irigasi masyarakat tetap dapat terpenuhi.
Setelah melalui proses penanganan selama beberapa hari, tim akhirnya berhasil membuka saluran alternatif sebagai jalur sementara untuk mengalirkan air menuju jaringan irigasi.
Hasilnya, pada Selasa, 25 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WITA, air berhasil kembali dialirkan melalui saluran alternatif tersebut.
Keberhasilan ini menjadi kabar baik bagi masyarakat dan petani yang sebelumnya khawatir terputusnya aliran air akan mengganggu aktivitas pertanian mereka.
Kolaborasi BBWS NT II dan Pemda Manggarai Timur dalam penanganan ini menunjukkan pentingnya respons cepat terhadap kerusakan infrastruktur irigasi, khususnya setelah bencana yang berdampak langsung terhadap sektor pertanian.
Dengan kembali mengalirnya air, diharapkan kebutuhan irigasi masyarakat di wilayah DI Wae Dingin, Sub DI Wae Laku, dapat kembali terpenuhi sembari menunggu penanganan permanen terhadap bagian saluran yang mengalami kerusakan akibat longsor.










