TVRINews, Lembata
Aktivitas erupsi Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, terus berlangsung. Erupsi beruntun tersebut berdampak terhadap 5.816 kepala keluarga atau sekitar 19.998 jiwa yang tersebar di 26 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.
Dampak yang dirasakan masyarakat antara lain paparan abu vulkanik, potensi gangguan kesehatan, keterbatasan air bersih, hingga terganggunya lahan pertanian dan ketersediaan pakan ternak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban, mengatakan hingga Kamis, 10 September 2026, belum dilakukan evakuasi warga. Status Gunung Api Ile Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Belum ada evakuasi karena status Gunung Ile Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada. Namun, BPBD terus melakukan penyampaian informasi peringatan dini, sosialisasi mengenai dampak erupsi, serta memperkuat rantai komando dan jaringan informasi hingga tingkat desa,” ujar Andris kepada TVRINews, Kamis, 10 September 2026.
Menurut Andris, pemerintah daerah juga telah menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi erupsi mengalami peningkatan.
BPBD Lembata telah membangun koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan perangkat desa di 26 desa terdampak. Pendataan terhadap kelompok rentan juga dilakukan, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, lanjut usia, hingga penyandang disabilitas.
“Kelompok rentan menjadi perhatian utama dalam persiapan penanganan darurat. Kami melakukan pendataan dan menyiapkan respons apabila sewaktu-waktu diperlukan pengungsian mandiri,” katanya.
BPBD juga mengantisipasi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik dengan mengaktifkan koordinasi sektor kesehatan, terutama untuk mengantisipasi penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Selain itu, pemerintah daerah telah mengajukan bantuan masker, penutup kepala, dan air bersih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak swasta untuk dukungan air bersih serta membangun komunikasi intensif dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bali-Nusa Tenggara dan Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok,” jelas Andris.
Aliran Lava Mengarah ke Tenggara
Selain abu vulkanik, perkembangan aliran lava juga menjadi perhatian. BPBD Lembata mencatat aliran lava bergerak ke arah timur tenggara dan berpotensi mengarah ke wilayah Desa Jontona.
“Aliran lava saat ini lebih mengarah ke timur tenggara dan berisiko terhadap Desa Jontona. Jarak aliran lava sudah mencapai sekitar 1.800 meter dari puncak dengan arah menuju Desa Jontona,” ungkap Andris.
Sementara itu, Petugas Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda, mengatakan aktivitas erupsi memang masih cukup intens. Namun, berdasarkan perkembangan pemantauan, kondisi tersebut belum menunjukkan ancaman langsung terhadap permukiman warga.
“Erupsi masih terjadi, tetapi dampaknya sejauh ini lebih dominan berupa abu vulkanik. Karena itu, belum ada evaluasi untuk menaikkan status gunung. Aktivitas kegempaan juga masih didominasi gempa permukaan sehingga statusnya tetap Level II atau Waspada,” ujar Stanis.
Ia menambahkan, kondisi aliran lava juga secara bertahap mulai lebih kondusif.
Empat Kali Erupsi dalam Sehari
Berdasarkan pemantauan PVMBG, Gunung Api Ile Lewotolok mengalami sedikitnya empat kali erupsi pada Kamis, 10 September 2026.
Erupsi pertama terjadi pukul 10.38 WITA. Kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar satu menit.
Erupsi kedua terjadi pukul 10.49 WITA. Tinggi kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 1.823 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat. Erupsi kedua terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung sekitar 45 detik.
Selanjutnya, erupsi ketiga terjadi pukul 11.04 WITA. Kolom abu kembali mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat. Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar satu menit lima detik.
“Erupsi disertai lontaran material pijar dan dentuman sedang. Material pijar teramati mengarah ke sektor tenggara dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir kawah,” kata Stanis.
Erupsi keempat kemudian terjadi pukul 11.24 WITA. Kolom abu teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar satu menit satu detik.
PVMBG Minta Warga Patuhi Radius Aman
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi rekomendasi keselamatan.
Masyarakat di sekitar Gunung Api Ile Lewotolok, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 hingga 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas gunung.
Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran, longsoran lava, serta awan panas yang dapat mengancam sejumlah sektor di sekitar gunung.
Selain itu, masyarakat disarankan menggunakan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan pelindung mata dan kulit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik. Tempat penampungan air bersih juga diminta ditutup untuk mencegah kontaminasi abu vulkanik.
Pemerintah Kabupaten Lembata bersama BPBD dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Api Ile Lewotolok. Kesiapsiagaan diperkuat agar masyarakat dapat segera merespons apabila terjadi perubahan status maupun peningkatan ancaman erupsi.










