TVRINews, Kupang
Kepedulian terhadap sesama ditunjukkan seorang prajurit TNI Angkatan Darat (AD) yang bertugas di Rumah Sakit Wira Sakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan menyisihkan gaji pribadinya, prajurit tersebut membangun rumah layak huni bagi warga kurang mampu yang sebelumnya tinggal di rumah tidak layak huni.
Prajurit tersebut adalah Sersan Kepala (Serka) Welem Lermatin. Ia tergerak membantu setelah melihat kondisi rumah keluarga Alfonsus Liufet di Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang.
Saat itu, keluarga Alfonsus tinggal bersama istri dan anak-anaknya di sebuah rumah berdinding bebak atau pelepah gewang, beratap daun, serta berlantai tanah. Kondisi rumah tersebut bahkan nyaris roboh ketika diterpa angin kencang.
"Saya pas berkunjung ke rumah teman saya di daerah itu, lihat rumah keluarga ini sudah mau roboh, rasa kasihan mulai muncul. Mereka tinggal bersama suami istri dan anak-anaknya dalam satu rumah yang sudah rusak, jadi saya bilang ke mereka kalau saya bantu bangun rumah ya, pakai gaji saya sedikit-sedikit," ujar Welem saat menyerahkan kunci rumah kepada keluarga Alfonsus, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Welem mengatakan, pembangunan rumah tersebut dimulai sejak April 2025. Selama hampir dua tahun, ia secara bertahap menyisihkan sebagian gaji bulanannya untuk mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga tersebut.

Ia mengaku bukan orang berada dan hanya bekerja sebagai staf di RS Wira Sakti Kupang dengan penghasilan yang terbatas. Namun, niat untuk membantu sesama membuatnya tetap berupaya menyisihkan sebagian penghasilannya.
"Saya mulai dari April 2025. Saya tidak kaya, tapi saya niat. Gaji staf di rumah sakit itu tidak besar, tapi kalau kita sisihkan untuk orang lain, Tuhan yang balas," katanya.
Tidak berhenti pada keluarga Alfonsus, Welem juga membantu keluarga lain yang mengalami kondisi serupa. Kali ini, ia membangun rumah milik keluarga Rafael Nopemnanu di Desa Kuanheum, desa tetangga dari Fatukanutu.
Untuk membantu pembangunan rumah kedua tersebut, Welem tidak hanya menyisihkan gaji, tetapi juga memanfaatkan hasil penjualan ternaknya.
"Setelah rumah keluarga Alfonsus selesai, saya kembali membangun rumah warga lain yang kondisi rumahnya sama, yaitu keluarga Rafael Nopemnanu di desa tetangga dan sekarang sudah hampir habis," ucapnya.
Pada Sabtu 31 Oktober 2026, Welem juga menyerahkan kunci rumah kepada keluarga Rafael di Desa Kuanheum.
Rafael menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan Welem kepada keluarganya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti karena diberikan tanpa mengharapkan imbalan, meskipun Welem sendiri memiliki penghasilan terbatas.
"Kita terima kasih banyak kepada Bapa Welem yang sudah mau membantu kami untuk bangun rumah kami tanpa imbalan apa pun. Ini semua adalah pergumulan kami yang dijawab oleh Tuhan melalui tangan Bapak Welem," tutut Rafael.
Ia berharap kepedulian seperti yang ditunjukkan Welem dapat menginspirasi orang lain untuk turut membantu masyarakat yang masih membutuhkan rumah layak huni.
Kisah Welem menjadi contoh kepedulian sosial yang dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu sesama yang membutuhkan.









