TVRINews, Soe
Hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Namun, Kampung Tuba, Desa Nule, Kecamatan Amanuban Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih terisolasi. Tidak ada jalan yang layak, tidak ada listrik, dan tidak ada air bersih. Warga di kampung ini hidup seperti terputus dari dunia luar, bahkan jauh dari akses informasi.
Untuk menuju Kampung Tuba, warga harus berjalan kaki melewati jalan setapak berbatu dan tanah liat. Jika musim hujan, jalan tersebut licin dan tidak bisa dilewati sepeda motor.

"Kalau hujan, kami tidak bisa ke kota. Anak-anak tidak sekolah. Kalau ada orang sakit, kami tandu 2 jam baru sampai puskesmas," ujar warga Tuba, Edy Tse, 45 tahun, yang ditemui di Kampung Tuba pada Jumat, 25 September 2026 siang.
Dari pantauan media, jalan menuju kampung tersebut hanya selebar 1 meter. Di kanan dan kiri terdapat jurang serta kebun warga.
Di Kampung Tuba terdapat puluhan kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa mencapai ratusan orang. Selama puluhan tahun, mereka hidup tanpa aliran listrik dari PLN dan tanpa akses air bersih.
"Sejak Indonesia merdeka, kampung kami belum pernah lihat listrik. Malam kami pakai pelita. Anak-anak belajar pakai lilin," kata Edy.
Ia mengaku pernah mengadu kepada pemerintah, tetapi hingga sekarang belum ada realisasi.
"Kami sudah usul tiap Musrenbang. Janjinya tiap tahun mau dipasang listrik dan jalan, tapi sampai sekarang tidak ada," keluhnya.
Karena akses jalan yang sulit, banyak anak-anak di Tuba putus sekolah. Jarak menuju SD terdekat sekitar 6 kilometer dengan medan yang berat.
"Anak saya 2 orang putus sekolah. Kasihan kalau jalan kaki jauh sepatu cepat rusak," ujarnya.
Dengan kondisi jalan yang sulit, warga berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, memberikan perhatian agar Kampung Tuba dapat terbebas dari keterisolasian.
Warga Tuba berharap Bupati TTS dan Gubernur NTT, termasuk pemerintah pusat melalui BPJN NTT, dapat melihat langsung kondisi mereka.
"Kami tidak minta banyak. Kami hanya minta jalan yang bisa dilewati motor dan listrik. Kami juga warga Indonesia, tinggal di pinggiran Kota Soe, bukan di hutan," tutup Edy dengan mata berkaca-kaca.










