TVRINews, Sabu Raijua
Bendungan Lere di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, kini dalam kondisi memprihatinkan. Infrastruktur yang dibangun sejak 2016 dengan anggaran miliaran rupiah itu tidak berfungsi maksimal dan area sekitarnya berubah menjadi hutan belukar.
Bendungan yang berada di Desa Loboadju, Kecamatan Sabu Tengah, awalnya dirancang untuk mendukung pengairan sekitar 150 hektare lahan sawah serta menjadi sumber air baku bagi tiga desa. Namun, hingga kini manfaat tersebut belum dirasakan masyarakat.
Kondisi itu terlihat saat warga meninjau langsung lokasi bendungan beberapa waktu lalu. Tubuh bendungan masih berdiri, tetapi saluran irigasi primer dan sekunder tampak tertutup rumput, semak, serta pepohonan.
Tampungan air juga dipenuhi rumput akibat sedimentasi. Sejumlah pintu air terlihat berkarat, bahkan beberapa di antaranya tidak lagi dapat digunakan. Di sekitar tanggul, tumbuh belukar berupa pohon dan rumput liar dengan ketinggian mencapai dua meter.
"Bendungan ini sebelumnya adalah embung yang dibangun dari 2016 dan selesai di tahun 2018. Tapi sampai sekarang tidak pernah difungsikan penuh, sekarang malah jadi hutan belukar," kata Ama Mone, warga Desa Menia kepada media pada Kamis, 06 Agustus 2026.
Menurut warga, sejak awal pembangunan belum tersedia jaringan perpipaan dan saluran tersier yang menghubungkan bendungan dengan lahan pertanian warga.
Akibat kondisi tersebut, petani di Sabu Raijua, khususnya Desa Menia, masih mengandalkan sumur gali dan air hujan untuk memenuhi kebutuhan pertanian.
Para petani yang sebelumnya berharap Bendungan Lere dapat membantu aktivitas pertanian mengaku kecewa karena proyek tersebut belum memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Biaya besar, tapi kami tidak rasakan manfaatnya, kalau hujan, airnya luber dan kalau kemarau semua jadi kering tidak ada yang urus," ujarnya.
Warga juga mempertanyakan anggaran Operasi dan Pemeliharaan (OP) yang dialokasikan melalui Satker OP di Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II). Mereka menilai pemeliharaan bendungan belum terlihat.
“Kita patut pertanyakan biaya operasi dan pemeliharaan (OP) yang dialokasikan melalui Satker OP selama ini,” jelas warga.
Sementara itu, Kepala BBWS NT II yang dikonfirmasi melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan (OP) 04, Lalu Siswadi, pada Kamis malam, 6 Agustus 2026, terkait kondisi Bendungan Lere, meminta media untuk datang langsung ke kantor Satker OP.
“Ke kantor saja om besok sore ngga apa-apa, biar jelas informasinya,thx, besok kami tunggu di kantor Satker OP,” tulis PPK OP 04 Lalu Siswadi singkat.









