TVRINews, Lembata
Gempa bumi berkekuatan M 7.7 yang mengguncang daratan pulau Flores berdampak pada peningkatan gempa tektonik lokal dan tektonik jauh yang mengakibatkan peningkatan aktivitas pada Gunung Api Ile Lewotolok, di Kabupaten Lembata.
Berdasarkan pantauan visual Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Selasa, 18 Agustus 2026, meski masih berstatus level II (waspada), Gunung Api Ile Lewotolok kembali erupsi pukul 09:02 WITA. Tinggi kolom abu teramati 100 meter di atas puncak atau 1.523 meter di atas permukaan laut.
Dengan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 33.2 mm dan durasi 1 menit 12 detik.
Sementara erupsi kedua, pukul 16:47 WITA. Tinggi kolom abu teramati 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 1 menit 53 detik.

"Dari pantauan visual sejak Selasa pagi, 18 Agustus 2026. Teramati aliran lava mulai keluar dari kawah dengan jarak mencapai 400 meter ke sektor selatan. Aktivitas aliran lava ini terus berlanjut hingga malam hari, dengan aliran lava ke sektor selatan telah mencapai jarak 1200 meter dari bibir kawah," jelas Petugas Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda, kepada tvrinews.com.
Lebih lanjut, Stanis menjelaskan, meskipun kecepatan alirannya bergerak lambat, namun berbeda dengan awan panas. Hal ini memberikan waktu bagi masyarakat agar melakukan evakuasi secara teratur. Jika aktivitas alirannya semakin nyata dan apabila mendekati pemukiman, ia mengimbau agar selalu patuhi rekomendasi dari pihak berwenang serta pahami petunjuk dari petugas penanggulangan bencana setempat.
Daftar Pengamatan Aktivitas Seismik dan Kegempaan Gunung Api Ile Lewotolok
Kegempaan periode 1-17 Agustus 2026 tercatat ada 2462 kali gempa erupsi, disusul 1775 kali gempa hembusan, 5 kali gempa guguran, 88 kali tremor harmonik, 268 kali tremor non harmonik, 1 kali gempa low-frequency, 16 kali gempa hybrid, 8 kali gempa vulkanik dangkal, 26 kali gempa vulkanik dalam, 52 kali gempa tektonik lokal, dan 73 kali gempa tektonik jauh serta 2 kali gempa terasa dengan skala MMI II –IV.
Kegempaan periode 18 Agustus 2026, Pukul 18.00 WITA, tercatat ada 113 kali gempa erupsi, 12 kali gempa hembusan, 31 kali tremor non harmonik, 1 kali gempa hybrid/fase banyak, 3 kali gempa vulkanik dangkal, dan 3 kali gempa tektonik jauh.
Selain itu, terekam Tremor menerus dengan amplitudo dominan 16,6 mm. Energi seismik yang diestimasi dengan metode perata-rataan nilai amplitudo atau Real-time Seismic Amplitude Measurements (RSAM) memperlihatkan nilai energi seismik yang naik tajam sejak tanggal 16 Agustus 2026.
Dari hasil pengamatan visual dari Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, menunjukkan asap kawah berwarna putih kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi berkisar 20–600 meter dari puncak. Tinggi kolom erupsi berkisar 50-700 meter dari puncak berwarna putih hingga kelabu.

Terjadi guguran, namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak teramati. Teramati aliran lava ke sektor selatan mencapai jarak lk. 400-1200 meter dari bibir kawah. Ditambah lontaran material pijar dengan jarak lontaran berkisar 100-500 meter ke arah tenggara dan 100-400 meter ke arah selatan. Erupsi tidak jarang disertai dengan suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga kuat.










