TVRINews, Lembata
Aktivitas kegempaan Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih terpantau. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Badan Geologi mencatat ribuan aktivitas kegempaan selama periode pemantauan 16 hingga 31 Juli 2026.
Dalam laporan evaluasi aktivitas Gunung Api Ile Lewotolok yang disampaikan pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyebut terdapat 821 kali gempa erupsi dan 1.312 kali gempa hembusan.
Selain itu, tercatat empat kali gempa guguran, 15 kali gempa harmonik, 17 kali tremor nonharmonik, serta dua kali gempa low-frequency.
Lana Saria mengatakan, selama periode tersebut juga terekam sejumlah aktivitas kegempaan lainnya yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik maupun tektonik.
"Selama periode 16 hingga 31 Juli 2026, tercatat empat kali gempa hybrid, tujuh kali gempa vulkanik dangkal, 27 kali gempa vulkanik dalam, 10 kali gempa tektonik lokal, dan sembilan kali gempa tektonik jauh," jelas Lana Saria.
Dari hasil pemantauan, aktivitas gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam menunjukkan jumlah kejadian yang relatif stabil.
Badan Geologi menjelaskan, kemunculan gempa tersebut mengindikasikan adanya proses peretakan batuan yang berkaitan dengan suplai magma dari kedalaman menuju bagian gunung yang lebih dangkal. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan atau stres pada tubuh gunung api.
Meski demikian, Gunung Api Ile Lewotolok saat ini masih berada pada Status Level II atau Waspada.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar gunung, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava serta awan panas yang dapat terjadi pada sejumlah sektor, yakni bagian selatan dan tenggara, barat, serta timur laut Gunung Api Ile Lewotolok.
Lana Saria mengingatkan masyarakat agar tetap tenang apabila mendengar suara gemuruh maupun dentuman dari kawah puncak. Fenomena tersebut dapat menjadi bagian dari aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung.
"Apabila terdengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah puncak, masyarakat diimbau tidak panik. Warga tetap perlu mengikuti rekomendasi PVMBG, menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan, serta mengenakan perlindungan bagi mata dan kulit," imbau Lana Saria.
PVMBG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Api Ile Lewotolok dan mengingatkan masyarakat untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.









