TVRINews, Flores Timur
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung pada Senin (27/7/2026). Sejumlah letusan terjadi dengan tinggi kolom abu bervariasi, sementara status gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-Laki di Desa Pululera, Herman Yosef Mboro, melaporkan erupsi pertama terjadi pada pukul 02.04 WITA. Kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak dengan warna kelabu berintensitas tebal yang mengarah ke utara dan barat laut.
"Erupsi terjadi pada pukul 02.04 WITA dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan barat laut," ujar Herman Yosef Mboro dalam laporan resminya.
Erupsi kembali terjadi pada pukul 03.21 WITA. Kolom abu kembali mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 2.584 meter di atas permukaan laut, dengan arah sebaran ke barat dan barat laut.
"Erupsi berikutnya terjadi pukul 03.21 WITA dengan tinggi kolom abu sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 2.584 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut," jelas Herman.
PVMBG juga mencatat erupsi pertama terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 29,9 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 24 detik. Sementara erupsi kedua memiliki amplitudo maksimum 22,2 milimeter dengan durasi sekitar 2 menit 9 detik.
Meski aktivitas vulkanik masih tinggi, PVMBG tetap menetapkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki pada Level III (Siaga).
PVMBG mengimbau masyarakat, pendaki, maupun wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di kawasan puncak gunung.
"Masyarakat maupun pengunjung atau wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Tetap tenang, namun waspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung," tegas Herman.
Selain itu, masyarakat yang bermukim di Desa Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berpotensi memicu banjir lahar.









