TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri sekaligus meluncurkan Program Siber Sehat NTT dalam kegiatan Launching dan Kampanye Siber Sehat NTT yang digelar di kawasan Car Free Day Jalan El Tari, Sabtu (9/5/2026).
Program Siber Sehat NTT merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dikembangkan melalui kolaborasi bersama Universitas Nusa Cendana. Program ini bertujuan membangun budaya digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa banyak manfaat, mulai dari kemudahan akses pendidikan dan informasi, perluasan pasar bagi pelaku UMKM, percepatan layanan publik, hingga peningkatan produktivitas ekonomi.
Namun, di balik peluang tersebut, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius yang perlu direspons secara bersama-sama.
“Banyak orang saat ini terganggu waktu istirahatnya karena terlalu lama berada di ruang digital. Screen time kita semakin tinggi. Semua kebutuhan memang tersedia di telepon genggam, tetapi jika tidak mampu mengatur penggunaannya dengan baik, kita bisa kehilangan kendali,” ujar Gubernur Melki Laka Lena, dalam keterangan yang dikutip, Minggu, 10 Mei 2026,
Ia menyoroti sejumlah fenomena yang mulai mengkhawatirkan di ruang digital, seperti penyebaran hoaks, maraknya konten berbahaya di kalangan pelajar, kecanduan gadget dan media sosial, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja dan generasi muda.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT menghadirkan Siber Sehat NTT sebagai gerakan edukasi dan literasi digital yang menyasar pelajar, mahasiswa, guru, orang tua, tenaga pendidik, serta masyarakat umum.
Menurut Melki, program ini bukan sekadar program teknologi, melainkan gerakan sosial dan pendidikan yang bertujuan meningkatkan kecerdasan digital masyarakat, melindungi masyarakat dari konten berbahaya, serta mendorong penggunaan teknologi secara sehat, produktif, dan bertanggung jawab.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan ekosistem digital yang sehat harus dimulai dari tiga ruang utama kehidupan masyarakat, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Melki mengajak para orang tua untuk lebih aktif mendampingi penggunaan gadget anak-anak di rumah. Ia juga mendorong sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter dan kedisiplinan digital, serta mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama, komunitas, dan para content creator lokal untuk turut ambil bagian dalam gerakan tersebut.
Program Siber Sehat NTT, lanjut Melki, juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTT melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat.
“Kita ingin menghadirkan kembali budaya belajar, budaya membaca, dan budaya berdiskusi di rumah. Kita ingin anak-anak NTT tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga aktif membangun masa depan mereka,” katanya.
Melalui Satgas Siber Sehat NTT yang dikelola Dinas Kominfo Provinsi NTT, masyarakat nantinya juga dapat melaporkan konten digital yang mencurigakan atau berpotensi membahayakan melalui kanal resmi pemerintah.
Laporan tersebut akan diverifikasi dan, jika diperlukan, ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor bersama aparat keamanan, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, serta instansi terkait lainnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia J. Nomleni, menyambut baik kehadiran Program Siber Sehat NTT sebagai langkah konkret pemerintah dalam menjawab tantangan era digital.
“Beberapa tahun terakhir, kita semua merasakan dampak teknologi yang begitu besar. Karena itu, program ini sangat positif. Mari kita mulai dari keluarga kita sendiri. Orang tua harus menjadi pengendali utama dalam membatasi durasi penggunaan gadget anak-anak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penggunaan gadget dan media sosial secara bijak merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat.










