TVRINews, Flores Timur
Thresher Shark Indonesia (TSI) bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Sandominggo mengajak mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Teknologi (IKTL) untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian laut melalui Program The Conservation Champion.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti 45 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) IKTL pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP IKTL, Rwanius Muaraya.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya TSI dan Pokmaswas Sandominggo dalam memperluas keterlibatan generasi muda pada berbagai program konservasi yang tengah dijalankan di Flores Timur. Melalui Program The Conservation Champion, para peserta akan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, memperluas wawasan, dan terlibat langsung dalam kegiatan konservasi berbasis masyarakat.
Dalam sambutannya, Rwanius Muaraya mengapresiasi inisiatif yang dilakukan TSI dan Pokmaswas Sandominggo karena telah membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa melalui isu-isu lingkungan dan konservasi.
“Menjaga laut bukan hanya tugas mereka yang bekerja di sektor perikanan. Laut merupakan sumber kehidupan bagi banyak orang sehingga upaya pelestariannya membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk generasi muda dan mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana belajar sekaligus berkontribusi bagi lingkungan. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi konservasi, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Usai pembukaan, Program Manager TSI, Yodhikson Marvelous Bang, memaparkan profil organisasi serta berbagai program konservasi yang telah dijalankan di Kabupaten Alor dan Flores Timur.
Yodhikson menjelaskan, TSI merupakan organisasi konservasi berbasis masyarakat yang digagas oleh anak muda Indonesia sejak 2018. Fokus kegiatannya meliputi perlindungan spesies laut rentan seperti hiu tikus dan pari mobula melalui penelitian, edukasi, penguatan kapasitas masyarakat, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Keterlibatan anak muda menjadi salah satu kekuatan utama dalam berbagai program konservasi yang kami jalankan. Karena itu, melalui Program The Conservation Champion, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda Flores Timur untuk belajar dan terlibat langsung dalam upaya pelestarian laut,” kata Yodhikson.
Selain memperkenalkan program konservasi pari mobula yang sedang berlangsung di Flores Timur, ia juga menjelaskan pengalaman pelaksanaan The Conservation Champion di Kabupaten Alor. Program tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung di lapangan, membangun jejaring, dan berkontribusi dalam kegiatan konservasi bersama masyarakat.
Peserta program akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari edukasi lingkungan, penelitian, kampanye konservasi, hingga pendampingan masyarakat pesisir. Sejumlah alumni program bahkan telah bergabung sebagai staf penuh waktu TSI dan memimpin berbagai kegiatan konservasi di tingkat komunitas.
Melalui pelaksanaan program di Flores Timur, TSI dan Pokmaswas Sandominggo berharap dapat melahirkan generasi muda yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian terhadap isu lingkungan, khususnya konservasi laut dan pengelolaan wilayah pesisir.
Kedua organisasi tersebut juga berharap semakin banyak pemuda Flores Timur yang mengambil peran dalam menjaga kelestarian sumber daya laut. Keterlibatan generasi muda dinilai penting untuk memperkuat gerakan konservasi berbasis masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir bagi generasi mendatang.










