TVRINews, Flores Timur
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melaporkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di dalam sepekan terakhir, dari akhir April hingga awal Mei 2026.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, menyebut peningkatan paling menonjol terjadi pada gempa Vulkanik Dalam (VA). Dalam periode tersebut, jumlah VA tercatat mencapai 21–32 kejadian per hari, meningkat tajam dibanding sebelumnya yang hanya 5–10 kejadian per hari.
“Peningkatan ini menunjukkan adanya suplai magma yang kuat dan berkelanjutan dari kedalaman, yang menandakan sistem magmatik kembali aktif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Selain itu, pada awal Mei juga terekam enam kali gempa Vulkanik Dalam dengan skala besar (overscale). Lokasi hiposenter diperkirakan berada di bagian utara gunung, yang mengindikasikan tekanan dari kedalaman mulai memberikan respons di lapisan dangkal.
Meski demikian, aktivitas lain seperti gempa frekuensi rendah (Low Frequency/LF) masih relatif stabil. Sementara data deformasi dari alat tiltmeter di stasiun Wolorona menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan tekanan di bagian dangkal tubuh gunung.
Menurut Lana, pola peningkatan aktivitas saat ini memiliki kemiripan dengan fase awal sebelum erupsi pada 2024. Namun, saat ini belum terlihat penguatan signifikan pada parameter dangkal seperti gempa vulkanik dangkal maupun deformasi yang lebih luas.
“Artinya, aktivitas saat ini masih berada pada tahap awal pengisian tekanan, dengan potensi berkembang menjadi erupsi skala kecil hingga menengah jika tekanan terus meningkat,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, status masih berada pada Level II (Waspada).
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi, serta tetap mengikuti arahan pemerintah daerah. Warga juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar saat hujan lebat, khususnya di aliran sungai yang berhulu di gunung.
Sejumlah wilayah yang masuk zona rawan antara lain Desa Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanio Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Warga terdampak abu vulkanik juga disarankan menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan.
Selain berdampak pada permukiman, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu operasional penerbangan apabila sebarannya mengarah ke bandara atau jalur udara.










