TVRINews, Manggarai Timur
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan, launching buku biografi berjudul “Gigih: Catatan Pengabdianku” pada Jumat, 1 Mei 2025. Buku tersebut merupakan sebuah catatan pengabdian birokrasi yang mengisahkan perjalanan hidupnya di Manggarai Timur.
Buku biografi Gigih (Catatan Pengabdianku) resmi diluncurkan, mengisahkan perjalanan panjang Boni Hasudungan, dari seorang ASN biasa hingga dipercaya sebagai Penjabat Bupati Manggarai Timur 2024–2025.
Boni menyambut baik sekaligus mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap peluncuran buku ini dapat menjadi media edukasi yang efektif dalam menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait bahaya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
"Saya merasa tidak pantas untuk menulis buku ini, saya bukan tipikal orang yang berbuat apa-apa, tetapi setelah berdiskusi lama dan bertemu om Nardi dan sepaket untuk menulis biar ada sejarah," kata Sekda Boni
Ia juga mengatakan bahwa dengan niat baik tanpa menyombongkan diri Sekda Boni menyampaikan pesan kepada generasi penerus khususnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kabupaten Manggarai Timur agar memberikan contoh yang baik.
"Saya berharap para generasi, khususnya yang PNS agar memberikan contoh yang baik," kata Sekda Boni
Ia juga menambahkan bahwa dirinya akan purna tugas di bulan Juli mendatangkan, semoga dengan buku "Gigih" ini dapat menjadi pelajaran bagi orang mudah di Manggarai Timur.
"Buku ini 100 persen kisa nyata, tidak ada yang di karang-karang, itu hal yang saya alami semua. Pokonya jabatan itu digunakan untuk melayani, saya di kasih kesempatan ini menurut saya menjadi lebih besar menolong orang," ujar Sekda Boni.
"Menolong banyak orang sudah menjadi tugas saya untuk melayani, secara umum isi buku ini menggambarkan perjuangan saya untuk masyarakat kabupaten Manggarai Timur," lanjutnya.
Terpisah Nardi Jaya, seorang jurnalis sekaligus editor dari buku "Gigih" menyatakan, bahwa dirinya terharu dengan perjuangan dari bapak Sekretaris Daerah, Boni Hasadungan yang dengan tulus mengabdikan dirinya di kabupaten Manggarai Timur.
"Jujur dan terus terang saja saat proses wawancara hampir banyak waktu kami lalui dengan menangis bersama," ungkap Nardy Jaya.
"bagi saya mengedit atau menulis buku tentang bapak, Boni Hasudungan, tidak terlalu sulit karena bapak Boni Hasudungan sudah membuat tulisan dan narasi-narasi pengabdian di akun media sosialnya," lanjutnya.










