TVRINews, Kabupaten Kupang
Pembangunan Bendung Oelnaimuti di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini baru mencapai sekitar 50 persen. Pelaksana proyek mengungkap sejumlah kendala yang menyebabkan pekerjaan belum selesai meski masa kontrak telah berakhir.
Staf pelaksana proyek, Tertius Tanu, mengatakan keterlambatan diawali oleh proses persiapan internal antara subkontraktor dan PT Adhi Karya sebagai pemenang tender. Akibatnya, pekerjaan di lapangan sempat terhenti selama kurang lebih dua bulan.
Selain itu, faktor cuaca berupa tingginya intensitas hujan serta sulitnya akses menuju lokasi proyek turut menghambat pelaksanaan pembangunan. Menurutnya, waktu yang cukup lama juga dibutuhkan untuk membuka dan menyiapkan jalan masuk bagi alat berat dan distribusi material.
“Kendala kita pertama adalah masalah hujan dan akses jalan masuk lokasi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyiapkan jalan masuk. Selain itu juga masalah tenaga kerja minim meski sudah diupayakan didatangkan dari luar NTT,” ujar Tertius kutip Minggu, 20 September 2026.
Tertius menambahkan, keterbatasan tenaga kerja menjadi salah satu hambatan utama sehingga progres pembangunan tidak berjalan sesuai target. Meski demikian, pihak pelaksana menegaskan tetap bertanggung jawab menuntaskan proyek tersebut.
“Kalau soal waktu pelaksanaan memang sudah selesai di bulan Mei 2026 lalu, tetapi kita tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek tersebut,” katanya.
Bendung Oelnaimuti merupakan proyek senilai Rp9,2 miliar yang dibangun melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Tahun Anggaran 2025. Bendung tersebut direncanakan menjadi sumber irigasi bagi sekitar 40 hektare lahan pertanian di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II Kupang, Parlinghoman Simanungkalit, menyatakan pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap progres proyek tersebut.
“Nanti kita cek ya,” tulis Parlinghoman saat dihubungi










