TVRINews, Lembata
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menargetkan kondisi keuangan yang lebih sehat pada Tahun Anggaran 2026. Target ini ditempuh melalui strategi efisiensi, peningkatan pelayanan, serta optimalisasi sumber daya.
Direktur PDAM Kabupaten Lembata, Olahara Lambertus Ola Hara, menjelaskan fokus utama program meliputi penurunan tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW), peningkatan jumlah pelanggan aktif, optimalisasi kapasitas produksi, serta penguatan manajemen keuangan.
"Kapasitas sumber air PDAM tercatat sebesar 92 liter per detik. Namun, kapasitas terpasang baru mencapai 55 liter per detik, dengan produksi aktual 36 liter per detik. Dari jumlah tersebut, distribusi kepada pelanggan baru mencapai 23,60 liter per detik, dengan rata-rata operasi 12 jam per hari," jelas Olahara, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menyebut tingkat kehilangan air masih berada pada angka 24,65 persen, dengan jumlah pelanggan aktif sebanyak 6.623 sambungan rumah. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber air dan pemanfaatannya.
"Beberapa persoalan utama yang dihadapi di antaranya tingginya NRW, distribusi air yang belum merata, tekanan air yang belum stabil, jaringan pipa yang mulai menua, serta pertumbuhan pelanggan yang belum optimal." ujarnya.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, PDAM memproyeksikan pendapatan sebesar Rp5,14 miliar dengan total beban operasional Rp5,08 miliar. Dari perhitungan tersebut, perusahaan diperkirakan mencatat surplus awal Rp59,93 juta.
Melalui langkah perbaikan seperti penurunan NRW, peningkatan efektivitas penagihan rekening, serta efisiensi biaya operasional, tambahan perbaikan keuangan ditargetkan mencapai Rp355,56 juta. Dengan demikian, proyeksi surplus usaha diperkirakan meningkat menjadi Rp415,49 juta pada akhir 2026.
Selain itu, PDAM menyiapkan strategi investasi bertahap senilai Rp3,6 miliar. Prioritas investasi mencakup program penurunan NRW sebesar Rp200 juta, pengadaan meter pelanggan Rp100 juta, serta pemeliharaan instalasi pengolahan air sekitar Rp115 juta.
Saldo akhir kas pada Desember 2026 diproyeksikan mencapai Rp1,37 miliar. Proyeksi ini menunjukkan likuiditas perusahaan dalam kondisi aman dan mampu membiayai investasi secara bertahap.
Komite Audit PDAM, Mateus Mas Belalawe, menilai PDAM memiliki peran strategis dalam pembangunan sistem pelayanan air minum di daerah. Saat ini Kabupaten Lembata belum memiliki Badan Layanan Umum Daerah maupun UPTD Air, sehingga PDAM masih menjalankan fungsi pelayanan publik secara luas.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola perusahaan, pembaruan dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), serta evaluasi kinerja berdasarkan aspek operasional, keuangan, sumber daya manusia, dan pelayanan.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Yohanes Berchamans Daniel Dai menyampaikan sejumlah poin strategis dalam rapat lanjutan pemaparan RKAP 2026. Poin tersebut meliputi rencana pemindahan kantor pusat, penataan aset, sinkronisasi pengelolaan instalasi pengolahan air limbah, kerja sama pemanfaatan sumber air bersama desa, serta kontribusi melalui badan usaha milik desa.
PDAM Lembata berharap seluruh pemangku kepentingan dapat membangun sinergi untuk meningkatkan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
"Dengan langkah pembenahan yang terarah, Pemerintah Kabupaten Lembata optimistis PDAM dapat tumbuh menjadi Badan Usaha Milik Daerah yang sehat, mandiri, profesional, dan mampu memberikan pelayanan air minum yang berkelanjutan bagi masyarakat." jelas Direktur PDAM Lembata.
Rapat tersebut dihadiri sejumlah perangkat daerah, di antaranya Inspektorat Daerah, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, Badan Keuangan dan Aset Daerah, Badan Pendapatan Daerah, RSUD Kabupaten Lembata, serta Bagian Hukum Sekretariat Daerah.










