TVRINews, NTT
Aktivitas erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur dan Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata berdampak pada operasional penerbangan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Bandar Udara Gewayantana Larantuka untuk sementara menghentikan pelayanan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas kedua gunung tersebut.
Kepala Bandara Gewayantana Larantuka, Puguh Lukito, mengatakan status bandara saat ini masih ditutup (Aerodrome Closed) demi menjaga keselamatan penerbangan.
“Sementara hari ini Bandara Gewayantana berstatus Aerodrome Closed akibat dampak erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki. Untuk pelayanan penerbangan belum ada kepastian dan akan menyesuaikan dengan dinamika kondisi erupsi kedua gunung,” kata Puguh saat dikonfirmasi tvrinews.com pada Jumat, 19 Juni 2026
Ia mengimbau masyarakat yang memiliki rencana perjalanan udara untuk terus berkoordinasi dengan maskapai penerbangan guna memperoleh informasi terbaru terkait jadwal penerbangan.
“Situasinya sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat perlu terus memantau informasi dari maskapai dan menyiapkan alternatif moda transportasi apabila penerbangan masih ditutup,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bandara Wunopito Lewoleba, Sudarmana, belum memberikan keterangan terkait kondisi operasional penerbangan di Kabupaten Lembata pasca-erupsi Gunung Ile Lewotolok.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Ile Lewotolok yang berstatus Level II atau Waspada mengalami erupsi pada Kamis, 18 Juni 2026 pukul 15.55 WITA. Saat itu, kolom abu terpantau mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 1.723 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang mengarah ke barat. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi erupsi selama 1 menit 12 detik, disertai suara gemuruh lemah.
Erupsi kembali terjadi pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 08.55 WITA. Kali ini kolom abu teramati mencapai 700 meter di atas puncak atau sekitar 2.123 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat.
Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 38,7 milimeter dan berlangsung selama 42 detik.
Di sisi lain, Gunung Lewotobi Laki-Laki yang saat ini berstatus Level III atau Siaga juga menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Erupsi pertama pada Jumat dini hari terjadi pukul 00.00 WITA dengan tinggi kolom abu mencapai 600 meter di atas puncak atau sekitar 2.184 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke utara dan timur laut. Erupsi ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 29,6 milimeter dan durasi 1 menit 50 detik.
Aktivitas vulkanik kembali terjadi pada pukul 01.43 WITA. Kolom abu teramati setinggi 300 meter di atas puncak atau sekitar 1.884 meter di atas permukaan laut, dengan arah sebaran ke utara dan timur laut.
Erupsi kedua tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 11 milimeter dan berlangsung selama 58 detik.
Otoritas penerbangan dan instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik kedua gunung guna memastikan keselamatan masyarakat serta operasional transportasi udara di wilayah Flores Timur dan Lembata.










