TVRINews, Flores Timur
Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Pemkab Flotim) terus memperkuat sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui kolaborasi lintas sektor. Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan "Kick Off Project Mentari Adaptif dan Ketahanan Layanan Kebidanan di NTT dalam Menghadapi Bencana dan Perubahan Iklim."
Kegiatan yang berlangsung di Aula Hotel Sunrise, Kelurahan Weri, Kecamatan Larantuka, Senin 31 Agustus 2026 ini merupakan langkah inisiatif Project Mentari meningkatkan ketahanan (resilience) layanan kebidanan, khususnya pelayanan kesehatan reproduksi, maternal, dan neonatal dalam menghadapi situasi bencana maupun dampak perubahan iklim.
Program ini sekaligus menjadi upaya untuk meningkatkan kapasitas bidan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar tetap mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan berkesinambungan, termasuk ketika terjadi gangguan terhadap akses maupun infrastruktur kesehatan.
Diketahui urgensi penguatan ketahanan layanan kesehatan tersebut semakin nyata, mengingat wilayah Flores memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana alam. Pada Agustus 2026, wilayah Flores baru saja mengalami gempa bumi berkekuatan besar. Sementara Kabupaten Flores Timur sendiri masih menghadapi ancaman erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki sejak tahun 2022.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Acting Counsellor for Governance and Human Development Kedubes Australia di Jakarta, Elena Martin Avila, menyampaikan dukacita atas bencana gempa bumi yang melanda daratan Flores. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya membangun sistem pelayanan kesehatan yang tangguh dan adaptif terhadap bencana.
“Project Mentari Adaptif dan Ketahanan Layanan Kebidanan di NTT merupakan inisiatif strategis untuk memperkuat sistem kesehatan reproduksi, khususnya keselamatan ibu dan bayi, di wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Elena, pelaksanaan Kick Off Project Mentari menjadi momentum dimulainya kolaborasi lintas sektor untuk membangun kesiapsiagaan bidan dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Flores Timur.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Australia mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat ketahanan sistem kesehatan, khususnya pelayanan bagi ibu dan bayi dalam situasi krisis.
*Bidan Garda Terdepan Pelayanan Ibu dan Anak*
Ketua AIPKIN, Jumiarni Ilyas, mengatakan bahwa bidan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama di tingkat desa.
Dalam kondisi bencana, kata Jumiarni, akses menuju fasilitas kesehatan dapat terganggu atau bahkan terputus. Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir karena adanya potensi keterlambatan memperoleh pelayanan kesehatan.
Jumiarni menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Dengan kesiapsiagaan yang baik, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan respons secara efektif ketika terjadi keadaan darurat.
“Bidan berperan sebagai garda terdepan dalam penyelamatan kesehatan ibu dan anak melalui tiga tahapan penanggulangan bencana, yaitu pra-bencana, saat bencana atau tanggap darurat, dan pasca-bencana,” jelasnya.
*Project Mentari Sejalan dengan Program Pemerintah*
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, menyambut baik pelaksanaan program Project Mentari di Kabupaten Flores Timur. Menurutnya, peran bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi semakin penting ketika daerah menghadapi situasi bencana, termasuk gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
“Peran bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat penting saat terjadi bencana. Bidan merupakan garda terdepan untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir,” kata Anton Doni dalam keterangan resmi yang diterima tvrinews.com, Selasa, 1 September 2026.
Bupati mengatakan, kondisi geografis Flores Timur memiliki tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Dalam situasi bencana, bidan yang bertugas di puskesmas maupun posko kesehatan dituntut untuk mampu menjalankan berbagai fungsi pelayanan secara cepat dan adaptif.
Karena itu, Bupati menilai kehadiran Project Mentari merupakan kesempatan penting bagi para bidan di Flores Timur untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Flores Timur beruntung mendapatkan project kegiatan ini. Para bidan akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, baik untuk menghadapi situasi bencana maupun dalam melakukan persiapan sebelum bencana,” ungkapnya.
Diketahui program Go Cinta 2H2 merupakan program inovasi kolaboratif Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang diarahkan untuk menurunkan angka stunting serta mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
"Berbagai upaya tersebut telah menunjukkan perkembangan positif. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, tidak terdapat kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Flores Timur. Ini artinya ada banyak kemajuan dalam berbagai hal,” kata Anton Doni.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator positif dalam pembangunan kesehatan di Flores Timur sekaligus menunjukkan pentingnya kesinambungan upaya promotif, preventif, pelayanan kesehatan, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan di lapangan.
*Perkuat Sistem Kesehatan yang Tangguh*
Pemerintah Kabupaten Flores Timur berharap Project Mentari dapat menopang dan memperkuat sistem kesehatan yang selama ini telah berjalan.
Penguatan kapasitas bidan dan fasilitas kesehatan tidak hanya penting dalam kondisi normal, tetapi juga menjadi bagian dari investasi daerah dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim yang dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, mitra pembangunan dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih tangguh dan responsif.
Melalui Project Mentari, kesiapsiagaan pelayanan kebidanan diharapkan tidak berhenti pada kemampuan merespons ketika bencana terjadi, tetapi dimulai sejak sebelum bencana, diperkuat saat tanggap darurat, dan dilanjutkan melalui proses pemulihan pascabencana.









