TVRINews, Kupang
Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) Kupang memprogramkan pembangunan sumur bor pada tahun anggaran 2027 sebagai upaya mengatasi krisis air bersih yang melanda Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Pelaksana Haarin (PLH) BBWS NT II, Frengky Welkis mengatakan, daerah Linamnutu khususnya di Dusun dua masuk daftar prioritas karena ada sekitar 100 lebih KK warga tidak memiliki sumber air tetap saat musim kemarau.

"Kami tidak bisa hanya droping air terus, solusi jangka panjangnya adalah sumur bor dan kami programkan sumur bor untuk desa di Linamnutu di tahun anggaran 2027 mendatang," kata Frengky, dikutip Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menambahkan, kebijakan bantuan program sumur bor ini diambil setelah tim dari BBWS NT II Kupang melakukan survey dan identifikasi lapangan untuk memastikan apakah di lokasi tersebut terdapat sumber air yang akan menjadi titik sumur bor nanti.
“Survei dan identifikasi dari tim Balai hasilnya baik dan menjadi acuan bagi kita untuk mengusulkan bantuan program sumur bor bagi warga minimal satu titik," ujarnya.
Selama 3 bulan terakhir, warga Linamnutu harus berjalan 3 KM ke tetangga untuk mengambil air bersih yang berada di lokasi persawahan agau membeli air dengan harga Rp20 ribu per jerigen 20 liter.
Sebelumnya diberitakan, musim kemarau panjang berdampak langsung pada ketersediaan air bersih di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satu desa yang terdampak parah adalah Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan. Ratusan kepala keluarga di desa tersebut kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk kebutuhan selain air minum, warga memanfaatkan sisa air di jaringan irigasi yang melewati perkampungan warga.
Dengan menggunakan jerigen 5 liter warga mencari air hingga ke persawahan linamnutu yang jauh dari rumah mereka.
Kondisi ini terpantau saat tim turun langsung ke lokasi desa Linamnutu, sebagian besar sumur warga dan mata air di Linamnutu sudah kering sejak awal Juli 2026.
Salah seorang Warga desa Linamnutu Dusun dua, Melda Tse, yang ditemui pada Minggu, 2 Agustus 2026 mengatakan sekitar seratus lebih dari 600 lebih KK di desa linamnutu terdampak kekeringan.
"Dari sejumlah mata air yang biasa kami pakai, sekarang tinggal 1 yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih itu pun antri, ibu-ibu harus jalan ratusan meter hingga kilometer ke lokasi persawahan untuk ambil air jika pemilik sumur tidak memanfaatkan untuk kepentingan tanaman mereka di sawah," ujarnya.
Bagi sebagian warga, persoalan air bersih ini sudah dialami warga sejak lama sehingga penggunaan air harus berhemat.
"Kalau potensi air memang di wilayah Linamnutu tidak kekurangan karena ada sumber air sungai linamnutu, namun untuk bisa menggali sumur pribadi harus membutuhkan tambahan uang yang cukup besar," kata Melda.
Karena luasnya wilayah terdampak, warga berharap adanya bantuan air bersih dari pemerintah agar bisa mengatasi masalah kekurangan air bersih ini.
“Kami berharap ada bantuan sumur bor dari pemerintah pusat melalui BBWS NT II atau BPBD termasuk bantuan Tandon bagi warga terdampak," tambahnya.









