TVRINews, Lembata
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi melaporkan aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengalami peningkatan selama periode pengamatan 16 hingga 30 Juni 2026. Meski demikian, status gunung api tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan hasil pengamatan visual menunjukkan Gunung Ile Lewotolok terlihat jelas hingga sesekali tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai tebal dan ketinggian antara 10 hingga 300 meter dari puncak.
"Berdasarkan laporan pengamatan visual selama periode 16-30 Juni 2026, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dan kelabu tipis hingga tebal dengan tinggi berkisar 10-300 meter dari puncak," kata Lana dalam keterangan resmi, Selasa, 7 Juli 2026.
Selama periode tersebut juga terjadi erupsi dengan tinggi kolom berkisar 100 hingga 800 meter dari puncak. Kolom erupsi berwarna putih, kelabu, hingga hitam dan beberapa kali disertai suara gemuruh serta dentuman berintensitas lemah hingga sedang. Aktivitas guguran material juga teramati, meski jarak dan arah luncurannya tidak dapat dipastikan secara visual.
Berdasarkan hasil pemantauan instrumental, Badan Geologi mencatat 1.475 gempa erupsi, 1.558 gempa hembusan, 15 gempa guguran, 54 tremor harmonik, 43 tremor nonharmonik, 20 gempa hybrid, empat gempa vulkanik dangkal, 35 gempa vulkanik dalam, lima gempa tektonik lokal, dan 18 gempa tektonik jauh.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi dan hembusan dibandingkan periode sebelumnya. Jumlah tremor harmonik, tremor nonharmonik, dan gempa hybrid juga meningkat, sedangkan gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, serta gempa guguran mengalami penurunan.
Aktivitas aliran lava masih teramati mengarah ke sektor selatan hingga tenggara, namun masih berada di dalam kawasan kawah. Selain itu, sinar api juga terlihat di puncak gunung, sementara lontaran material pijar mencapai sekitar 500 meter ke arah tenggara dan 300 meter ke arah selatan.
Pengukuran deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) menunjukkan fluktuasi jarak yang cenderung memanjang. Sementara hasil pengamatan menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) memperlihatkan kondisi deformasi yang relatif stabil.
Menurut Lana, hasil pengamatan mengindikasikan terjadinya deflasi atau pengempisan pada tubuh gunung. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya volume material vulkanik yang dikeluarkan selama aktivitas erupsi dan hembusan.
Berdasarkan hasil analisis hingga 30 Juni 2026, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, pendaki, maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi Gunung Ile Lewotolok.
Masyarakat juga diminta tidak panik apabila mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah karena suara tersebut merupakan bagian dari aktivitas erupsi yang sedang berlangsung. Namun, dentuman yang cukup kuat dapat menimbulkan getaran pada bangunan, terutama pada kaca jendela dan pintu.
Selain itu, warga di sekitar gunung diimbau menggunakan masker dan pelindung mata saat terjadi hujan abu, menutup tempat penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi abu vulkanik, serta mewaspadai potensi banjir lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Ile Lewotolok, terutama saat musim hujan.










