TVRINews, Flores Timur
Aktivitas Gunung Api Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam periode 16–20 April 2026 menunjukkan kondisi masih aktif dengan dominasi pergerakan fluida dangkal. Hal ini ditandai dengan tingginya tremor non-harmonik dan gempa Low Frequency (LF), serta munculnya erupsi yang cukup intensif.
Berdasarkan laporan khusus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Jumat (1/5/2026), tercatat gempa vulkanik dalam berkisar 2–5 kejadian per hari. Peningkatan gempa LF pada 17 April 2026 juga diikuti oleh erupsi, yang mengindikasikan adanya akumulasi tekanan di bagian dangkal sebelum dilepaskan melalui letusan kecil.
Secara umum, aktivitas pada periode tersebut menunjukkan sistem gunung api masih responsif terhadap peningkatan tekanan skala kecil, yang memicu erupsi kecil hingga menengah secara berulang.
Memasuki periode 21–26 April 2026, aktivitas meningkat signifikan dengan jumlah erupsi mencapai puncaknya pada 22 April sebanyak sembilan kejadian. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebut kondisi ini sebagai fase pelepasan tekanan maksimum dari sistem dangkal.
“Pada fase ini, kegempaan didominasi oleh tremor non-harmonik dan LF yang tetap tinggi, sementara gempa vulkanik dalam masih rendah, yaitu 2–4 kejadian per hari,” ujar Lana.
Ia menambahkan, deformasi tiltmeter pada sumbu X menunjukkan tren deflasi yang konsisten, yang mengindikasikan pengosongan tekanan secara intensif. Meski demikian, potensi erupsi masih ada, namun cenderung berulang dengan energi terbatas.
Selanjutnya pada periode 27–28 April 2026, aktivitas erupsi sempat berhenti, meskipun tremor non-harmonik masih tinggi. Nilai LF juga cenderung menurun, namun gempa vulkanik dalam meningkat menjadi 11–17 kejadian, terutama pada 28 April.
Kondisi ini mencerminkan fase pasca-erupsi, di mana tekanan dangkal mulai berkurang, namun sistem magma masih aktif secara internal.
Sementara itu, pada periode 29–30 April 2026, terjadi peningkatan signifikan gempa vulkanik dalam hingga 32 kejadian dalam satu hari, disertai kemunculan tremor harmonik tanpa diikuti erupsi. Tiltmeter pada sumbu Y juga menunjukkan tren kenaikan.
“Kondisi ini mengindikasikan awal fase pengisian ulang tekanan dari kedalaman, kemungkinan berupa pergerakan magma atau fluida menuju sistem dangkal,” jelas Lana Saria.
Ia menegaskan, meski belum diikuti peningkatan LF maupun erupsi, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena berpotensi berkembang.
“Jika tren ini berlanjut, potensi erupsi kembali terbuka, baik erupsi kecil hingga menengah secara episodik, maupun erupsi eksplosif jika terjadi peningkatan signifikan,” tambahnya.
Meski demikian, Badan Geologi menetapkan status aktivitas Gunung Api Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level II (Waspada). Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, warga di sekitar wilayah rawan bencana diminta mewaspadai potensi banjir lahar saat hujan lebat, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut, seperti Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Badan Geologi juga mengingatkan bahwa sebaran abu vulkanik dapat mengganggu aktivitas penerbangan apabila mengarah ke jalur dan area bandara.










