TVRINews, Ende
Sejak gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, jajaran Polres Ende terus bergerak mendampingi masyarakat yang terdampak. Hampir seluruh wilayah di 21 kecamatan di Kabupaten Ende menjadi sasaran penyaluran bantuan. Medan yang harus ditempuh pun tidak selalu mudah. Sejumlah wilayah memiliki kondisi jalan yang ekstrem, sementara akses menuju beberapa daerah lainnya terputus akibat dampak gempa.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah personel kepolisian untuk menjangkau masyarakat. Bahkan, untuk wilayah jalur selatan Ende yang tidak dapat diakses melalui jalur darat, Polres Ende bekerja sama dengan Polda NTT menyalurkan bantuan menggunakan helikopter.
Bantuan dikirim melalui udara untuk memastikan masyarakat yang berada di wilayah sulit dijangkau tetap mendapatkan kebutuhan yang diperlukan selama masa tanggap darurat.
Kehadiran aparat juga harus dirasakan langsung oleh masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit. “Kami hadir bersama rakyat,” menjadi semangat yang terus dibawa jajaran Polres Ende dalam menjalankan tugas kemanusiaan selama masa bencana hingga memasuki tahap pemulihan, ujar Kapolres Ende.
Memasuki masa pemulihan, perhatian Polres Ende tidak hanya tertuju pada kebutuhan masyarakat, tetapi juga pada keberlangsungan pendidikan anak-anak.
Sejumlah tenda dibangun di lingkungan puskesmas dan sekolah untuk mendukung pelayanan serta proses belajar mengajar.
Langkah ini menjadi penting karena sebagian fasilitas pendidikan terdampak gempa dan belum seluruhnya dapat digunakan seperti sebelum bencana.
Tidak berhenti di sana, Polres Ende juga menyalurkan berbagai perlengkapan pendidikan berupa buku, tas, bolpoin, dan peralatan belajar mengajar lainnya kepada sekolah-sekolah yang terdampak.
Di tengah situasi pascabencana, perlengkapan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan semangat anak-anak untuk kembali belajar.
Polres Ende juga terus menggencarkan kegiatan trauma healing bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Melalui berbagai aktivitas, anak-anak diajak bermain, berinteraksi, dan kembali membangun rasa percaya diri setelah mengalami situasi yang tidak mudah akibat gempa.
Di tengah kegiatan tersebut, senyum anak-anak menjadi pemandangan yang memberikan harapan.
Trauma akibat bencana tidak selalu terlihat. Karena itu, pemulihan juga membutuhkan pendekatan yang menyentuh sisi psikologis masyarakat.
Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata menegaskan, keberadaan polisi di tengah masyarakat bukan hanya ketika situasi aman, tetapi juga ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan.
“Tugas kemanusiaan selama bencana merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab untuk memastikan masyarakat tidak merasa berjalan sendirian menghadapi masa sulit,” terang AKBP Yudhi, Kamis, 3 September 2026.
Bagi jajaran Polres Ende, tugas kemanusiaan selama bencana merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab untuk memastikan masyarakat tidak merasa berjalan sendirian menghadapi masa sulit.
Dari menembus medan ekstrem, mengirim bantuan menggunakan helikopter ke wilayah yang terisolasi, membangun tenda untuk sekolah dan puskesmas, hingga mendampingi anak-anak melalui trauma healing, seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memulihkan Ende.










