TVRINews, Lembata
Aktivitas Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meningkat. Dalam pemantauan pada Minggu (30/8/2026), petugas mencatat dua kali erupsi dengan kolom abu mencapai hingga 700 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda, mengatakan erupsi pertama terjadi pada pukul 08.51 WITA. Kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak condong ke arah barat. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi sekitar 51 detik.

“Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 08.51 WITA. Kolom abu teramati setinggi kurang lebih 500 meter di atas puncak dengan warna kelabu dan intensitas sedang,” ujar Stanis kepada TVRINews, Minggu (30/8/2026).
Selang sekitar 47 menit kemudian, erupsi kedua kembali terjadi pada pukul 09.38 WITA. Kali ini, kolom abu mencapai sekitar 700 meter di atas puncak atau 2.123 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat hingga barat laut. Erupsi kedua terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung selama satu menit 53 detik.
Selain erupsi, petugas juga memantau adanya aliran lava pada sektor selatan-tenggara. Aliran lava tersebut bergerak mengikuti jalur kali dan posisinya dilaporkan telah mendekati salah satu kampung adat.
Stanis mengatakan jarak aliran lava dengan kampung adat tersebut hanya sekitar ratusan meter.
“Kami sudah mengeluarkan laporan khusus terkait adanya aliran lava. Berdasarkan rekomendasi teknis Badan Geologi, sektor selatan-tenggara harus steril dari aktivitas masyarakat dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas,” jelasnya.
Menurut Stanis, aliran lava saat ini melewati jalur kali dan terpantau semakin dekat dengan kampung adat. Jaraknya diperkirakan hanya beberapa ratus meter atau sekitar lima menit perjalanan dengan berjalan kaki.

Visual melalui cctv thermal periode 24 jam terakhir
Gunung Api Ile Lewotolok saat ini masih berada pada Status Level II atau Waspada. PVMBG meminta masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak melakukan aktivitas di dalam radius dua hingga tiga kilometer dari pusat aktivitas pada sektor selatan dan tenggara.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran dan longsoran lava yang dapat disertai awan panas. Potensi bahaya tersebut terutama mengancam sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut.
Petugas mengingatkan warga yang berada di sekitar kawasan gunung api untuk tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Pos Pengamatan Gunung Api.
“Jika terjadi hujan abu, masyarakat kami imbau menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut. Gunakan juga perlengkapan pelindung mata dan kulit agar terhindar dari gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan,” pungkas Stanis.
PVMBG bersama petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik dan potensi bahaya di sekitar gunung.










