TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Sti Nenot'ek, mengimbau masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap di tengah kondisi kemarau panjang.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejak 7 Oktober 2026 terdeteksi titik panas di wilayah NTT dan sekitarnya. Namun, titik panas yang terpantau melalui satelit merupakan indikasi lokasi dengan suhu permukaan tinggi dan belum dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran.
“Berdasarkan analisis BMKG, titik panas merupakan indikasi lokasi dengan suhu permukaan tinggi yang terdeteksi satelit, bukan konfirmasi terjadinya kebakaran. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” jelas Sti kepada TVRINews, Selasa (13/10/2026).
Sementara itu, berdasarkan data pengamatan udara atas Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, terdeteksi dua lapisan stabil atau inversi subsidensi pada ketinggian sekitar 2,8 hingga 3,9 kilometer. Kondisi atmosfer tersebut dapat menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap yang berada di lapisan bawah berpotensi bertahan lebih lama.
Sti menjelaskan, lapisan inversi bukan merupakan sumber terbentuknya asap, tetapi dapat memengaruhi penyebaran dan lamanya asap bertahan di atmosfer.
Sebaran kabut asap atau haze di sejumlah wilayah NTT juga diduga berkaitan dengan kebakaran hutan di wilayah lain, termasuk Papua Selatan. Meski demikian, sumber dan jalur pergerakan asap perlu dipastikan melalui analisis meteorologi lebih lanjut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat, terutama di wilayah Pulau Timor dan bagian timur Pulau Flores.
“Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan. Gunakan masker saat diperlukan, hindari membakar sampah maupun lahan, dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan,” ujarnya.
Selain ancaman kabut asap, BMKG juga menyampaikan peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah NTT dengan status awas. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kota Kupang menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan mengalami periode tanpa hujan selama sekitar empat bulan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari ketika suhu udara terasa lebih panas.
Masyarakat juga diminta terus mengikuti informasi dan peringatan resmi BMKG serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama kondisi kering masih berlangsung.










