TVRINews, Lembata
Petugas Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok laporkan erupsi beruntun disertai dentuman dan sebaran debu vulkanik mencapai 6.000 feet.
Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengalami erupsi beruntun, disertai dentuman sedang hingga lemah dengan sebaran debu vulkanik mencapai 6000 feet.
Petugas Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda menjelaskan bahwa erupsi terjadi semenjak Minggu pagi, 6 September hingga Senin, 7 September 2026.
Stanis menyampaikan bahwa erupsi pertama terjadi pukul 06:41 WITA. Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut, dengan kolom abu teramati berwarna kelabu tebal condong ke arah tenggara. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 1 menit 22 detik.
Disusul erupsi kedua Minggu malam, pukul 21:37 WITA. Tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak atau 1.923 m di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah selatan dan barat. Erupsi terekam seismogram, amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 32 detik.
"Selain itu, VAAC DARWIN melaporkan, Minggu 06 September 2026 pukul 15.30 WITA. Terpantau hingga pukul 21.30 WITA, sebaran debu abu vulkanik Gunung Api Ile Lewotolok mencapai ketinggian 6000 Feet, bergerak ke selatan dengan kecepatan 05 knot dengan intensitas tetap," jelas Stanis.
Sementara itu, erupsi ketiga dilaporkan Petugas Pemantau Gunung Api kembali terjadi pada Senin pagi, 7 September 2026. Sekira pukul 05:41 WITA, dengan tinggi kolom abu teramati 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah tenggara dan barat daya. Erupsi juga terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 42 detik, letusan disertai dentuman denga intensitas sedang.
Sedangkan erupsi keempat terjadi pukul 06:15 WITA. Tinggi kolom abu teramati 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu tebal, condong ke arah barat daya. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 1 menit 6 detik disertai dentuman dengan intensitas lemah.
Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menyampaikan bahwa status gunung api masih berada pada level II (waspada). Meski begitu masyarakat, pengunjung, pendaki maupun wisatawan diimbau agar tidak tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2-3 kilometer sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas.
Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut.
"Masyarakat wajib menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit serta menghindari gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan Iainnya, serta menutup tempat penampungan air bersih agar terhindar dari paparan abu vulkanik," imbau Petugas Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok.










